Melihat Warga Jerman Berpidato dan Bercerita dengan Bahasa Indonesia Mengenai Nusantara

Home / Berita / Melihat Warga Jerman Berpidato dan Bercerita dengan Bahasa Indonesia Mengenai Nusantara
Melihat Warga Jerman Berpidato dan Bercerita dengan Bahasa Indonesia Mengenai Nusantara Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin dan Istri Dubes RI berfoto bersama juri dan peserta lomba.

TIMESMAKASSAR, BERLIN – Senandung merdu dari kelompok Gemilang Berlin yang menyanyikan dua buah lagu keroncong membawa penonton secara fiktif nun jauh ke tanah air. Masing-masing berjudul "Bengawan Solo“ dan "Bandar Jakarta“ yang sudah familiar di telinga pecinta musik Indonesia. 

Menariknya, lagu-lagu tersebut dinyanyikan di Haus der Indonesischen Kulturen (Rumah Budaya Indonesia) di Berlin, Jerman.

KBRI-Berlin-2.jpgLeonie Kress saat berpidato dalam bahasa Indonesia

Hari Sabtu (1/6/19) bertepatan dengan Hari Lahirnya Pancasila, Rumah Budaya Indonesia yang berlokasi di Theodor-Franke-Strasse 11, Berlin, menyelenggarakan Lomba Berpidato dan Bercerita Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (LBB BIPA). 

"LBB BIPA adalah program tahunan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diselenggarakan di 21 Kedutaan Besar Republik Indonesia. KBRI Berlin adalah salah satunya,“ ungkap Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Ahmad Saufi. 

Ia juga menambahkan bahwa LBB BIPA ini bertujuan untuk mengukur keterampilan berbahasa Indonesia penutur asing serta pengetahuan dan pemahaman mereka tentang budaya Indonesia. 

Tema "Toleransi“ yang diangkat LBB BIPA pada tahun ini merupakan kelanjutan tema dari lomba pada tahun sebelumnya. Tema LBB BIPA tahun 2018 adalah "Persatuan dalam keberagaman“. 

Sementara itu, khusus untuk lomba bercerita dibatasi pada pemahaman antarbudaya yang terkandung dalam cerita Indonesia yang mengandung nilai kearifan lokal Indonesia yang universal. 

Final LBB BIPA 2019 di Berlin dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federal Jerman, Arif Havas Oegroseno. 

Ia sangat terkesan dengan antusiasme warga Jerman mengikuti lomba ini dan berterima kasih untuk keikutsertaan mereka.

Tepat pukul 15.00 waktu setempat lomba dimulai. Satu persatu peserta berpidato. Salah satunya bernama Nicklas Fricke. Pria kelahiran kota Konstanz di Jerman 25 tahun silam ini mengawali pidatonya dengan diksi yang puitis. Ia mengajak audiens untuk bersama-sama merenungkan "Apa itu toleransi?“ tanya dia. 

Nicklas saat ini tengah berkuliah Bahasa Indonesia semester keempat di HTWG Konstanz, Jerman. Motivasinya ikut lomba ini karena dia ingin berkenalan dengan banyak orang dan ingin mengetahui sejauh mana kemampuannya berbahasa Indonesia. 

Pada bulan Agustus nanti dia juga berencana untuk mengunjungi negara-negara di Asia Tenggara.

Nicklas, yang juga sutradara film, dalam pidatonya menganalogikan bahwa proses pengambilan gambar untuk sebuah film itu bisa sampai 20 kali. Begitu juga dengan toleransi. Ia menganggap seseorang pasti akan membutuhkan waktu untuk dapat memiliki rasa toleran, terlebih di dunia baru. 

KBRI-Berlin-3.jpgOlivia Morawiec berkisah Bawang Merah Bawang Putih

Menurutnya, toleransi juga bisa dibentuk mulai dari tingkat yang paling sederhana di rumah. Orang tua pada umumnya ingin membentuk karakter atau jati diri pada anak-anaknya. Salah satu hal yang ditanamkan di keluarganya adalah rasa toleransi terhadap sesama.

Lain halnya dengan Leonie Kress. Perempuan asal kota Hamburg ini pernah mengikuti lomba serupa pada tahun 2018 lalu.

 “Saya sangat tertarik dengan pertukaran budaya. Karena topik toleransi tahun ini sangat penting untuk berbagai budaya, saya menjadi termotivasi untuk mengikuti lomba pidato pada tahun ini," ungkap Leonie yang sangat fasih berbahasa Indonesia. 

“Selain itu, saya melihat kesempatan ini sebagai tantangan yang bagus untuk memperluas Bahasa Indonesia saya," sambungnya. 

Dalam pidatonya, Leoni mengambil contoh keragaman agama di Indonesia. Dia begitu terkesan dengan toleransi beragama di Indonesia. Baginya, dengan diperingatinya hari-hari besar keagamaan menjadi hari libur nasional merupakan bentuk dari toleransi masyarakat Indonesia. Tentu saja hal itu berbeda dengan di negaranya. 

Selain itu, kebanyakan media di Jerman juga masih mengedepankan Islamophobia. Masih banyak media yang mengangkat tema hijab untuk perempuan muslim sebagai simbol agama yang menakutkan. 

Padahal baginya justru tindakan dan perilaku seseoranglah yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang hanya melihat apa yang dikenakannya. 

Di akhir pidato, Leonie menyebut kunci dari toleransi di Indonesia adalah "Bhineka Tunggal Ika“. 

KBRI-Berlin-4.jpgSalah satu peserta lomba sedang berpidato pada LBB BIPA di Berlin

Pidato Leonie tersebut diganjar juri menjadi pemenang ketiga lomba berpidato. 

Pada kategori lomba bercerita, salah satu peserta bernama Olivia Morawiec berkisah tentang “Bawang Putih dan Bawang Merah”. 

Olivia kini sedang menempuh kuliah S1 Jurusan Asian Studies Management di University of Applied Sciences Konstanz, Jerman. Konsentrasi studinya adalah Business Administration, cultural studies South/Southeast-Asia, dan Bahasa Indonesia. 

Selain bahasa Jerman dan bahasa Indonesia, Olivia juga menguasai bahasa Inggris dan bahasa Polandia.

Saat itu, Olivia yang mengenakan rok panjang bermotif batik bercerita dibarengi dengan gestur tubuh serta mimik yang membuat penonton di Rumah Budaya Indonesia tertegun. 

Ia tidak hanya berkisah di atas panggung, namun juga melibatkan penonton dengan mengajaknya berdialog. Pemahaman terhadap ceritayang sangat baik dan alur cerita yang mengalir dibarengi kelancaran bertutur membuatnya menjadi pemenang lomba bercerita. 

Sebagai hadiahnya, ia akan dikirim ke Indonesia bulan Agustus mendatang. 

Adapun pemenang pertama lomba pidato tahun ini adalah Raphael Eric Kunert. 

Di Indonesia, Olivia dan Raphael serta 40 peserta lainnya dari 21 negara berbeda akan mengikuti serangkaian kegiatan. Mereka akan dites Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), mengikuti lomba final lomba berpidato dan bercerita tingkat dunia, mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di istana negara, serta melakukan kunjungan budaya dan wisata. 

Tampak rasa senang dan haru terpancar di wajah Olivia dan Raphael karena mereka bisa menyisihkan para peserta lain untuk mewakili Jerman di level dunia nanti. (*)

 

Iwa Sobara, M.A adalah dosen di jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (UM) yang sedang menempuh S-3 di Technische Universitaet Berlin dengan mengambil jurusan language and communication.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com