Soal Kerusuhan di Desa Sukorejo, PSHT Banyuwangi dan Warga Sepakat Berdamai

Home / Berita / Soal Kerusuhan di Desa Sukorejo, PSHT Banyuwangi dan Warga Sepakat Berdamai
Soal Kerusuhan di Desa Sukorejo, PSHT Banyuwangi dan Warga Sepakat Berdamai Perjanjian damai antara warga Sukorejo dan PSHT di Mapolres Banyuwangi. (Foto: Agung Sedana/ TIMES Indonesia)

TIMESMAKASSAR, BANYUWANGI – Tragedi kerusuhan antara Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dengan warga Desa Sukorejo dan Wringintelu Kecamatan Bangorejo, berakhir damai. Kemelut yang sempat menyita mata penghuni dunia maya Banyuwangi tersebut telah selesai, setelah kedua belah pihak sepakat akur melalui tinta bermaterai, Kamis (15/8/2019).

Keduanya mendatangi Mapolres Banyuwangi untuk menggelar pertemuan meja damai bersama dengan PCNU sebagai mediatornya. Dari hasil pertemuan tersebut telah disepakati perjanjian damai yang menghasilkan beberapa poin kesepakatan.

Pertama, keduanya sepakat untuk memberikan judul 'Banyuwangi Rukun, Indonesia Damai' sebagai sampul perdamaian tersebut. Kedua, keduanya saling meminta maaf dan memaafkan atas insiden kerusuhan tersebut. Ketiga, keduanya menjunjung azas kemanfaatan hukum, yakni untuk tidak saling melaporkan baik secara pidana maupun perdata, serta mencabut laporan yang telah dibuatnya.

Keempat, saling sepakat untuk membina kelompok masing-masing untuk tidak memperkeruh keadaan. Kelima, sepakat untuk memberikan bantuan kepada korban kerusuhan tersebut. Keenam, saling berkomitmen untuk tidak mengungkap statemen atau berpendapat kepada media agar tidak memicu kesalahpahaman. Terakhir, apabila ada kesalahpahaman dikemudian hari akan diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

Selaku penegak hukum, Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi menyambut dengan baik jalur perdamaian yang ditempuh oleh keduanya itu. "Untuk azas kemanfaatan yang lebih besar kita mendukung upaya perdamaian itu. Kemudian nanti kita akan tindaklanjuti dengan kesepakatan yang sudah dibuat," katanya.

Perdamaian itu, lanjut Kapolres, dapat menggugurkan tindak pidana yang melibatkan kedua pihak. Bahkan pertemuan yang dihadiri para pihak dari PSHT, perangkat Desa Sukorejo, PCNU dan Polri menjadikan perkara itu mencapai babak final akhir.

"Tapi ada syarat formil dan materiil yang harus dipenuhi. Seperti permohonan pencabutan laporan yang dilampiri dengan bukti perdamaian. Ada berita acara tambahan dari saksi korban maupun pelapor bahwa kasus ini tidak ditindaklanjuti karena sudah ada upaya perdamaian," katanya.

Selaku mediator, Ahmad Rifa'i, SH. Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH PCNU Banyuwangi) mengucap syukur atas langkah damai yang telah diambil oleh kedua belah pihak.

"Alhamdulillah, kedua belah pihak sepakat untuk tidak saling melapor dan menuntut, baik pidana dan perdata. Terkait laporan yang sudah masuk akan dicabut oleh kedua belah pihak," kata pria yang akrab disapa Tedjo itu.

Untuk nasib warga yang rumahnya rusak akibat kerusuhan itu, akan diganti rugi berupa materil. Namun untuk nominalnya, ia tidak menyebutkan besaran yang telah disepakati. Sedangkan untuk korban luka-luka, kedua pihak sepakat untuk merawat dirinya masing-masing.

"Untuk kerusakan 16 rumah di Desa Sukorejo, pihak PSHT akan membantu sesuai kemampuan. Kita tidak melihat nominal tapi niat baiknya untuk mengakhiri masalah ini," katanya.

Untuk diketahui, pada hari Jumat (16/8/2019) besok, akan digelar deklarasi perdamaian dan kerja bakti oleh warga PSHT di Desa Sukorejo, Banyuwangi. Dengan menyasar dua rumah yang menjadi korban kerusuhan itu. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com