Federasi Kontras Sarankan Pemerintah Gelar Dialog Bersama Mahasiswa Papua

Home / Berita / Federasi Kontras Sarankan Pemerintah Gelar Dialog Bersama Mahasiswa Papua
Federasi Kontras Sarankan Pemerintah Gelar Dialog Bersama Mahasiswa Papua (kiri-kanan) Andri Arianto, Andy Irfan, dan Fatkhul Khoir, Selasa (20/8/2019). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESMAKASSAR, SURABAYAFederasi Kontras menyarankan pemerintah menggelar dialog secara terintegrasi bersama mahasiswa Papua untuk kembali mencairkan suasana.

Kondisi terkini usai kisruh kasus persekusi terhadap mahasiswa di Asrama Papua Jalan Kalasan, Surabaya, sudah mulai mereda. Mahasiswa Papua yang berada di Kota Pahlawan tetap melanjutkan aktifitas normal seperti biasa.

Kontras Surabaya sebagai lembaga perlindungan hukum yang ditunjuk mahasiswa Papua, memaparkan perkembangan terakhir kondisi mahasiswa yang tinggal di asrama. 

Meskipun masih mengalami trauma secara psikologis mereka tetap melakukan aktifitas seperti kuliah dan memilih tinggal di pemukiman warga (rumah kos). 

“Saat ini mereka masih berada di tempat tersebut (asrama) namun tidak menginap sebagian besar masih di tempat kos,” terang Andy Irfan, Sekjen Federasi Kontras, didampingi Ketua Kontras Surabaya, Fatkhul Khoir, Selasa (20/8/2019).

Rencananya mereka dijadwalkan hadir dalam kongres bersama Federasi Kontras lintas wilayah siang tadi, mengingat kejadian tersebut bukan pertama kalinya dialami. Namun secara psikologi mereka masih membutuhkan rasa aman saat ini.

“Perkembangan terakhir mahasiswa masih trauma. Kami tidak jadi menghadirkan mereka dalam kongres ini, yaitu teman-teman yang masih terkoneksi dengan asrama, anggota asrama maupun yang tertangkap kemarin,” ungkapnya.

“Teman-teman Papua menunjuk kami sebagai pendampingan hukum dalam peristiwa ini,” imbuh Andy.

Dalam waktu dekat, Kontras akan mengajak beberapa tokoh agama mengunjungi asrama untuk bersilaturahmi.  “Besok (21/8/20019) kita akan mengajak tokoh agama untuk silaturahmi, salah satunya yang sudah konfirmasi PBNU. Kita akan tunjukkan bahwa masyarakat Surabaya memeluk mereka secara hangat,” paparnya.

Andy Irfan turut menanggapi rencana pemerintah untuk mengumpulkan mahasiswa dalam satu wadah. Pihaknya menyarankan agar pemerintah daerah memiliki ajang dialog untuk mengatasi masalah itu.

“Kita harus kritis, ada kasus yang tidak tuntas di sana oleh karena itu mereka perlu perlakuan khusus. Saya justru mencegah pengumpulan oleh pemerintah daerah karena itu namanya isolasi, lebih baik buatkan acara terintegrasi seperti gathering,” imbuh Andy yang melakukan koordinasi secara intens dengan mahasiswa Papua tersebut. 

Sementara itu, menurut Andri Arianto, Divisi Penelitian Federasi Kontras, tekanan psikologis yang dialami mahasiswa jauh lebih besar mengingat pertaruhan masa depan pendidikan mereka di Surabaya. Baik bagi mahasiswa yang mendapat beasiswa maupun biaya sendiri dari orang tua.

“Jika mereka kita tuntut untuk terbuka bercerita tentang kronologi peristiwa itu untuk saat ini sangat tidak memungkinkan itu harus dipahami semua orang, karena mereka juga harus memperhatikan faktor keberlangsungan pendidikan di Surabaya,” ujar Andri.

Saat ini mereka mendapatkan tekanan kekerasan baik secara psikis maupun fisik. Oleh karena itu semua pihak harus mengetahui kondisi tersebut dan membuka ruang dialog. 

Terlebih bagi Kota Surabaya sebagai kota multikultur tujuan pendidikan. Pemerintah maupun kampus harus siap, meskipun di beberapa daerah juga sering terjadi gap antarmahasiswa pendatang, namun hal tersebut tidak menyurutkan minat mahasiswa luar untuk melangsungkan pendidikan di Pulau Jawa khususnya Surabaya.

Pemerintah Provinsi Jatim, lanjut Andri, harus merumuskan bersama model jaminan keamanan dengan melibatkan banyak sektor. ”Terutama dalam kasus mahasiswa Papua di Surabaya, yang notabene wali kota mendapat anugerah kehormatan sebagai Mama Papua,” imbuhnya, usai dialog yang diselenggarakan Federasi Kontras di Kantor Kontras Surabaya siang tadi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com