Mereka yang Mengguncang Dunia saat Bekerja dari Rumah

Home / Kopi TIMES / Mereka yang Mengguncang Dunia saat Bekerja dari Rumah
Mereka yang Mengguncang Dunia saat Bekerja dari Rumah Irfantoni Listiyawan, Cotent Writer di Teknoia Creative, Verified Writer di Good News from Indonesia.

TIMESMAKASSAR, JEMBER – Sebagian besar perusahaan mengambil kebijakan untuk pegawainya bekerja dari rumah atau work from home pada saat pandemi virus corona. Namun, tak sedikit juga perusahaan yang memilih opsi untuk merumahkan karyawannya alias PHK. Cerita mereka yang terkena PHK ini pun semakin membuat pilu ketika tidak mendapatkan pesangon dari tempat bekerja. Itu baru dari segi ekonomi. 

Dari segi sosial, pandemi virus corona juga membatasi ruang gerak manusia. Inilah yang dalam bahasa keren ala pemerintah adalah physical distancing atau pembatasan pertemuan secara fisik guna menekan penularan virus corona. Dari sini kemudian muncul anjuran dan hashtag #DirumahAja berseliweran di media sosial.

Berdiam diri di rumah tanpa kegiatan yang tak pasti memang dapat membuat seseorang bingung harus berbuat apa. Dalam tingkatan tertinggi, seseorang yang jenuh pun akan menjadi stres berat. Hal tersebut rupanya tidak hanya dialami kita di masa kini. Di masa lalu, mereka yang terjebak di dalam rumah karena wabah juga merasakannya.

Akan tetapi, ada pula orang-orang yang justru menghasilkan penemuan dan hasil yang cemerlang saat mereka terisolir dalam rumah. Sebut saja nama Isaac Newton yang kelak terkenal karena teori gravitasinya. Atau Mary Shelley dengan kisah-kisah horor lewat ‘Frankenstein’ karyanya. Berikut sekelumit kisah mereka.

Isaac Newton dan Gaya Gravitasi

Tentu semua orang tak asing dengan konsep teori gravitasi Isaac Newton. Sebagaimana dilansir dari National Geographic disebutkan bahwa saat pandemi ‘The Great Plague’ yang mendera kota London dirinya adalah mahasiswa Trinity College Cambridge, London berusia 20 tahun. Saat wabah terjadi, universitas tersebut ditutup tanggal 7 Agustus 1665. Hal itu memaksa para cendekiawan maupun para mahasiswanya menyelamatkan diri. Termasuk Newton yang memilih ke pertanian keluarganya di daerah Woolsthrope Manor.

Sembari mengisolasi diri dan berdiam di rumah saja, bukan halangan baginya untuk tidak produktif. Dia pun mencoba menyelesaikan dan memecahkan soal maematika. Tak jauh dari jendela rumahnya, terdapat sebua pohon apel. Ketika dia berada di bawah pohon apel dan buah tersebut jatuh mengenai kepalanya, dia pun berusaha memecahkan apa yang sebenarnya terjadi dengan teori gravitasi. Newton berpikir tentang teori gravitasi itu tak terbatas pada jarak tertentu di bumi saja, melainkan lebih luas.

Mary Shelley dan Frankenstein

Pandemi virus corona pada awal bulan April ini juga bertepatan dengan 205 tahun tragedi meletusnya Gunung Api Tambora pada 15 April 1815 silam. Abu letusan Tambora setidaknya hampir menutupi sebagian besar langit kala itu dan membuat situasi menjadi gelap gulita dan mengubah cuaca di Eropa selama tiga tahun. Hal inilah yang membuat seorang penulis Mary Shelley membatalkan rencana liburannya ke sebuah danau di Jenewa, Swiss karena gelapnya kondisi cuaca saat itu.

Mau tak mau, dirinya harus mengisolasi diri di rumah. Di sinilah tebersit di benaknya untuk menulis novel klasik ‘Frankenstein’. Novel itu pun terbit untuk pertama kalinya tanggal 1 Januari  1818 dan diangkat dalam sebuah layar lebar di tahun 1910. Apa yang dilakukan Mary Shelley ini juga diperkuat pernyataan Bill Phillips dalam tulisannya bertajuk ‘Frankenstein and Mary Shelley’s Wet Ungenial Summer’ sebagaimana dikutip dalam buku terbitan khusus Tempo, ‘Liputan Tempo: 200 Tahun Tambora’.

Mereka yang Mengabadikan Lewat Lukisan

Letusan Tambora  yang membuat langit Eropa menjadi gelap juga diabadikan dalam sebuah lukisan oleh para seniman lukis terkenal dalam menggambarkan bagaimana situasi mencekamnya kala itu. Mereka pun mulai menuangkan kuas dan cat minyak selama berada di rumah ketika menghabiskan bulan madunya di sekitaran Pantai Weymouth, Inggris.  Pelukis John Constable menggambarkan kemuaraman suasana saat itu dalam lukisan berjudul ‘Weymouth Bay: Bowleaze Cove and Jordan Hill’. Saat ini lukisannya terpambpang di National Gallery, London.

Begitu juga dengan Joseph Mallord William Turner yang mengabadikan visualisasi kengerian suasana saat itu kala berada di rumah. Lukisan yang dibuatnya kemudian diberi nama  ‘Red Sky and Crescent Moon’. Kini, karyanya menghiasi Tate Museum of Modern Art, London. Lukisan ini juga menggambarkan bagaimana kondisi suhu di London saat itu mencapai minus 16 derajat Celcius.

Setidaknya, apa yang dilakukan orang-orang di atas terdahulu ada saat menjalani masa sulit dan berdiam di rumah saja menjadi pemantik semangat bagi kita untuk terus berkarya. Khususnya di saat sulit seperti saat ini dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi yang canggih.

***

*)Oleh: Irfantoni Listiyawan, Cotent Writer di Teknoia Creative, Verified Writer di Good News from Indonesia.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com