Organisasi Penggerak: Kolaborasi Memajukan Pendidikan Indonesia

Home / Kopi TIMES / Organisasi Penggerak: Kolaborasi Memajukan Pendidikan Indonesia
Organisasi Penggerak: Kolaborasi Memajukan Pendidikan Indonesia Al-Mahfud, Peminat Topik Pendidikan, Bergiat di Paradigma Institut.

TIMESMAKASSAR, JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baru saja meluncurkan Program Merdeka Belajar episode ke-IV yang bernama Organisasi Penggerak. Program Pada yang diluncurkan pada Selasa (10/03/2020) ini adalah program pemberdayaan masyarakat secara masif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Melalui program ini, Kemendikbud mendorong semua organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, relawan, hingga orang tua untuk ikut serta dalam upaya meningkatan kualitas pendidikan. Dengan sinergi, kebersamaan, dan dukungan dari berbagai elemen masyarakat tersebut, diharapkan bisa mendorong partisipasi publik untuk berkontribusi pada dunia pendidikan.

Kita tahu, selama ini ada berbagai macam organisasi, individu, atau relawan yang bergerak di bidang pendidikan yang ada di tengah masyarakat. Namun, berbagai organisasi masyarakat atau individu yang memiliki program pelatihan guru dan kepala sekolah tersebut cenderung berjalan sendiri-sendiri, sehingga sulit dilakukan pengukuran untuk melihat data pencapaian secara komprehensif. Seperti sejauh mana program-program tersebut telah memberi dampak pada peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah.

Lewat Program Organisasi Penggerak inilah, Kemendikbud akan membangun kolaborasi masif dengan organisasi dan relawan yang memiliki program tersebut. Lewat berbagai standar, indikator, persyaratan, dan ukuran yang sudah ditetapkan, Kemendikbud akan melakukan pengidentifikasian program-program pelatihan guru dan kepala sekolah yang terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Selanjutnya, organisasi masyarakat yang terbukti baik ini akan didorong untuk terus meningkatkan kualitas guru dan kepala sekolah, sehingga muncul “Sekolah Penggerak”.

Sekolah Penggerak idealnya memiliki empat komponen. Pertama, Kepala Sekolah memahami proses pembelajaran siswa dan mampu mengembangkan kemampuan guru dalam mengajar (instructional leader). Kedua, Guru berpihak kepada anak dan mengajar sesuai tahap perkembangan siswa (teach at the right level). Ketiga, siswa menjadi senang belajar, berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, kolaboratif (gotong royong), dan berkebhinekaan global. Keempat, terwujudnya Komunitas Penggerak yang terdiri dari orang tua, tokoh, serta organisasi kemasyarakatan yang diharapkan dapat menyokong sekolah meningkatkan kualitas belajar siswa (Kompas.com, 03/03/2020).

Program “Merdeka Belajar Episode 4: Organisasi Penggerak” diharapkan akan bisa mendorong hadirnya ribuan Sekolah Penggerak dengan berbagai kriteria tersebut. Lewat dukungan dari pemerintah, serta pelatihan dan penguatan guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidikan lainnya, diharapkan Sekolah Penggerak bisa bergerak dan berjalan berkelanjutan, sehingga berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Harapannya, Sekolah Penggerak ini akan bisa menyebarluaskan praktik baiknya ke sejumlah PAUD/SD/SMP/TKLB/SDLB/SMPLB lain di sekitarnya.

3 Kategori

Sebagamana dijelaskan dalam situs resmi Program Organisasi Penggerak Kemendikbud (sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id ), terdapat tiga kategori dalam Program Organisasi Penggerak ini. Masing-masing kategori memiliki kriteria khusus yang menentukan ada di level mana suatu organisasi berperan dalam program Organisasi Penggerak tersebut.

Kategori pertama adalah “Kategori Gajah”. Yakni, bagi organisasi yang memiliki rekam jejak berupa program yang terbukti telah meningkatkan hasil belajar siswa dan peningkatan motivasi, pengetahuan atau praktek pembelajaran guru atau kepala sekolah. Selain itu, juga organisasi yang memiliki pengalaman merancang dan implementasi program dengan baik. Organisasi di kategori “Gajah” ini bisa mendapat bantuan untuk menjalankan proyek rintisan di lebih dari 100 PAUD/SD/SMP/TKLB/SDLB/SMPLB. Dukungan yang didapatkan adalah maksimal 20 miliar/tahun/program.

Kedua, “Kategori Macan”. Yakni program dengan bukti peningkatan motivasi, pengetahuan, atau praktek pembelajaran guru atau kepala sekolah. Selain itu, organisasi juga memiliki pengalaman merancang dan implementasi program dengan baik. Dalam kategori ini, organisasi bisa mendapatkan bantuan menjalankan proyek rintisan di 21 sampai 100 PAUD/SD/SMP/TKLB/SDLB/SMPLB. Adapun dukungan yang diberikan di kategori “Macan” ini maksimal sebesar 5 miliar/tahun/program.

Kemudian, ketiga, adalah “Kategori Kijang”. Yakni program dengan bukti berupa pengalaman merancang dan implementasi program bidang pendidikan dengan baik. Di kategori ini, organisasi bisa mendapatkan bantuan menjalankan proyek rintisan di 5 sampai 20 PAUD/SD/SMP/TKLB/SDLB/SMPLB. Sedangkan besarnya dukungan dari pemerintah untuk organisasi penggerak kategori “Kijang” ini maksimal sebesar Rp 1 miliar/tahun/program.

Terlihat bagaimana semangat kolaborasi terus menjadi spirit Kemendikbud dalam meningkatkan kualitas pendidikan saat ini. Mulai dari program Merdeka Belajar, Guru Penggerak, Kampus Merdeka, dan kini Program Organisasi Penggerak ini, semua menggambarkan adanya semangat membuat terobosan-terobosan mendasar dan baru, terutama untuk mendorong inovasi dan semangat kolaborasi yang benar-benar penting di era saat ini. Mengatasi berbagai problem dunia pendidikan kita yang begitu kompleks, memang dibutuhkan semangat kebersamaan untuk bergerak bersama mengatasi persoalan dan menghadapi tantangan yang ada.

Kita berharap, program Organisasi Penggerak berjalan optimal dalam mendorong program-program peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah lewat sinergi dengan berbagai organisasi masyarakat. Dari sana, diharapkan muncul para guru dan kepala sekolah yang berkualitas: berkompeten dan memiliki keahlian khusus, sehingga menjadi “penggerak” untuk menciptakan “Sekolah Penggerak” di satuan pendidikan masing-masing. Kemudian, praktik positif dari masing-masing “Sekolah Penggerak” tersebut diharapkan bisa ditularkan ke sekolah-sekolah lain, sehingga memberi dampak luar biasa bagi pengingkatan kualitas proses pendidikan kita.

***

*) Penulis adalah Muhamad Sulaiman, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah minimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com