Hybrid Learning: antara Trend dan Peningkatan Prestasi Peserta Didik

Home / Kopi TIMES / Hybrid Learning: antara Trend dan Peningkatan Prestasi Peserta Didik
Hybrid Learning: antara Trend dan Peningkatan Prestasi Peserta Didik Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESMAKASSAR, MALANGHYBRID learning atau blended learning ramai dibicarakan didunia pendidikan, terlebih dalam abad 21. Model pembelajaran yang menggabungkan berbagai pendekatan dalam pembelajaran diantaranya pembelajaran tatap muka, berbasis komputer dan dalam jaringan ini mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 2000an dan pada mulanya banyak diterapkan di Australia, Inggris, Amerika, baik perguruan tinggi maupun instansi pelatihan. Transfer of knowledge yang dilakukan melalui pembelajaran hybrid ini banyak menghasilkan generasi-generasi yang mempunyai pengetahuan sesuai dengan harapan. Namun demikian sepertinya keresahan muncul khususnya dalam hal pembangunan karakter sebagai bagian dari proses pendidikan itu sendiri.

Seperti diketahui bahwa setiap lulusan jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memiliki tiga kompetensi utama atau aspek, yaitu aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga aspek tersebut harus mendapatkan perhatian yang sama dalam rangka membentuk manusia yang unggul dan berdaya saing tinggi. Unggul salah satunya saja akan mengakibatkan ketimpangan. Untuk itu dibutuhkan seorang guru yang berkualifikasi bagus dalam rangka pencapaian komptensi tersebut. Dengan demikian pencapaian kompetensi lulusan akan dicapai dengan baik.

Kebijakan pemerintah tahun 2018 melalui permendikbud no. 35 tentang Kurikulum 2013 ada perubahan yang siknifikan dimana sekolah dituntut untuk melakukan pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga setiap sekolah harus berusaha keras untuk merealisasikan tersebut. Mulai dari pengadaan alat komputernya, jaringan internetnya, kemampuan gurunya dalam mengoperasikan tersebut sehingga kebijakan tersebut dapat landing dengan mulus. Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan zaman terkhusus ketika dunia ini semakin pesatnya artificial. Hal ini dibuktikan dengan adanya Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) baik ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Hybrid yang kemudian dikenal dengan daring (online) menjadi kebutuhan dan trend. Sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran itu akan diclaim sebagai sekolah yang maju dan mengikuti perkembangan zaman. Sementara terlambat dalam mengikuti perkembangan itu akan dikalim sebaliknya. Sehingga sekolah berlomba-lomba melakukan pengadaan komputer, jaringan internet, dan pelatihan-pelatihan. Dunia IT menjadi gadis cantik yang diperebutkan banyak orang. Perusahaan IT melonjak tinggi, pembelajaran konvensional semakin ditinggal.

Lantas apakah trend tersebut diikuti oleh peningkatan prestasi belajar siswa? Ini perlu kajian berkesinambungan mengingat pembangunan manusia tidak bisa dilihat dalam waktu dekat tetapi jauh kedepan bisa 10 sampai 20 tahun kedepan. Prestasi yang dimaksud bukan saja dalam hal pengetahuan, tetapi juga harus sikap dan keterampilannya harus terus dilatih. Inilah manusia yang utuh. Manusia yang unggul afeksinya, unggul kognisinya, dan unggul psikomotoriknya. Yang menjadi pertanyaan adalah bisakah ketiganya dilakukan dalam pembelajaran daring.

Inilah yang ingin dijawab oleh pemerintah Indonesia dengan menggabungkan pembelajaran face to face denga pembelajaran dalam jaringan yang dikenal dengan hybrid learning itu. Konsep ini sebenarnya adalah jalan tengah yang diambil karena jalan tengah ini merupakan jalan yang terbaik. Jalan tengah merupakan ajaran agama yang sangat bagus. Artinya adalah pembelajaran tidak hanya dilakukan dalam jaringan semata, tetapi masih harus dilakukan dengan tatap muka. Pembelajaran dalam jaringan untuk menjawab tantangan zaman dimana pengetahuan terhampar luas dalam dunia maya. Sementara pembangunan rohani, afeksi, sikap, keterampilan harus dilakukan dengan kontak fisik. Sehingga peserta didik akan mendapatkan seluruh kompetensi yang ada, dan tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai.

Hybrid learning harus disambut dengan riang gembira. Menjawab tantangan tapi tetap menjaga tradisi agung yaitu tatap muka guru dengan siswa. (*)

*) Penulis: Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang.   

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com